Ahmad Fathul Bari, Caleg Muda DPR RI dari Timur Indonesia

Ahmad Fathul Bari, Caleg Muda DPR RI dari Timur Indonesia

Tulisan ini dibuat oleh Zainal C. Airlangga, dengan judul Ahmad Fathul Bari, Caleg Muda DPR RI dari Timur Indonesia.

Ia bukan siapa-siapa dalam hierarki orang berkuasa. Ia juga jauh dari posisi orang ternama. Namun, sosoknya bisa menjadi fajar baru di tengah senjakala politik tanah air yang mencemaskan: penuh anomali dan ironi. Hadirnya, serupa oasis di tengah wajah gersang parlemen kita.
Caleg Muda DPR RI dari Timur Indonesia

Dia adalah Ahmad Fathul Bari, orang menyebutnya Ai. Pria kelahiran 11 Januari 1985 ini, didaulat maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari PKS untuk Dapil 2 Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meliputi Timor, Rote, Sumba, dan Suba Rajua. Sosok muda yang telah ditempa dalam rangkaian panjang pengalaman berorganisasi dan aktivitas sosial ini, menjadi magnet tersendiri.

“Ai itu suka tantangan. Ia keluar dari PNS dan memilih pekerjaan yang menantang. Jarang orang yang berpikir keluar dari zona aman, itulah pilihan hidup dia. Orang seperti dia biasanya survive di segala kondisi,” demikian kira-kira kata Bang Mustafa Kamal, Sekjen PKS, awal 2017 lalu saat saya berbincang di ruangannya di gedung DPR.

Sejak di perkuliahan, aktivis yang kini duduk sebagai salah satu Ketua ILUNI UI, memang suka tantangan serta dikenal kritis, bersih, dan orang baik. Ai menjadi tumpuan kepemimpinan dan inspirasi banyak orang, tetapi sekaligus antitesis sebagian politisi busuk di Senayan.

Ai juga terbiasa mandiri. Semasa kuliah, ia tak segan mengayuh sepeda motor bututnya untuk berjualan kue donat berkeliling kampung di sebagian wilayah selatan Jakarta, serta ke para mahasiswa dan kantin-kantin kampus UI. Merasakan perjuangan dari bawah turut memupuk kesadaran sosialnya. Kedekatan dengan wong cilik dijalaninya baik dalam bentuk pengabdian masyarakat berupa community development, merintis rumah belajar, hingga menggalang dana bagi warga yang ditimpa kesusahan, maupun pembelaannya dalam menyuarakan aspirasi rakyat saat aktif di gerakan mahasiswa.
Pejuang Civil Society

Namanya menjulang tinggi tak hanya lantaran pernah menjabat ketua BEM UI, tetapi juga perjuangannya menuntut sekolah gratis untuk SD dan SMP, serta direalisasikannya anggaran pendidikan 20% dari APBN/APBD pada tahun 2007. Perjuangannya bersama elemen civil society lainnya akhirnya membuahkan hasil saat pemerintah pada 2009 mematok anggaran pendidikan 20% dan menggratiskan sekolah negeri dari SD hingga SMA.

Baginya, menjadi calon wakil rakyat dari pulau timur Indonesia ini adalah amanah besar sekaligus sebuah kebanggaan. Amanah besar, sebab di NTT, utamanya di daerah pemilihannya, tingkat baca tulis masyarakatnya masih rendah dan angka kemiskinan tergolong tinggi. Tentu saja lewat pencalonannya itu, ia membawa misi untuk mengantarkan masyarakat di Dapilnya terdongkrak kualitas SDM dan taraf hidupnya. Dirinya juga harus mengkonversi aspirasi rakyat ke dalam tindakan nyata.

Tentu saja, berjuang untuk Dapilnya merupakan kebanggaan. Sebab, dia sudah tertambat hatinya pada keelokan alam dan budaya adiluhung NTT. Selain pesona Pulau Komodo, NTT mempunyai potensi besar danau tiga warna Kelimutu, komunitas adat, taman laut Maumere, dan karakteristik masyarakatnya yang terbuka. Sumber daya alam inilah yang perlu dipromosikan sebagai destinasi wisata berkelas internasional, yang sekaligus harus dijaga bersama rakyat setempat.

Akhirnya, betul kata Bung Karno, “Bunga mawar tidak mempropagandakan harum semerbaknya karena dengan sendirinya harum semerbaknya itu tersebar di sekelilingnya.”

Saya kira orang-orang yang bekerja dalam keikhlasan tinggi dan sunyi publikasi, ia mawar yang tak mempropagandakan diri. Dan, di tengah krisis politisi berkualitas serta defisit pusat-pusat teladan, sudah sepatutnya harum semerbak seorang Ai mesti dihadirkan. Saatnya dia mengisi kekosongan itu: berjuang untuk menata rumah rakyat dari Dapil NTT.

Salam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *